Custom Search

Adbrite

Your Ad Here

Sunday, December 7, 2008

Renungan Idul Adha

I
Ketika perintah Allah turun kepada nabi Ibrahim alaihissalan untuk menyembelih Ismail puteranya sendiri dengan tangannya sendiri, jiwa insan keduanya tentu terguncang.
Betapapun dahsyatnya ujian itu, keduanya tidak pernah menyanggah meskipun dalam bentuk lintasan tanda tanya di hati atau pikiran.
Tanya yang akan menjadi gerbang bagi syetan untuk menjerumuskan anak Adam ke jurang kesesatan dan kefasikan.
Tanya yang akan menodai keikhlasan dan ketulusan hati dalam penghambaan diri dan penyerahan diri sepenuhnya pada Allah Yang Maha Agung lagi Maha Terpuji.
Tanya yang akan menjadi awal petaka.
Ibrahim dan Ismail diselamatkan oleh Allah dari petaka ini, petaka tanya yang berbau sanggahan dan bantahan.
Jadilah keduanya orang yang mukhlis, ikhlas seikhlas-ikhlasnya berkorban memenuhi perintah Allah, Tuhan mereka, Tuhan kita dan Tuhan Alam Semesta.
Allah pun memilih keduanya sebagai hamba yang dimuliakanNya di dunia dan di akherat.

II

Cinta dan kasih sayang Ibrahim pada Ismail puteranya, tiada padanan sesuatu apapun di dunia ini.
Ismail adalah buah hati yang telah begitu lama sangat diharapkan Ibrahim sebegai penerus keturunannya.
Apakah menurut takaran Allah hal itu melampui batas bagi Ibrahim ?
Wallahu a’lam, hanya Allah sendiri yang tahu.
Kenyataannya Ibrahim diperintah oleh Allah agar membuang Ismail yang masih bayi bersama Siti Hajar ibunya di lembah Bakka yang kemudian bernama Mekkah.
Lembah tak bertuan berupa hamparan padang pasir dan cadas tanpa naungan apapun, kecuali langit biru dan bumi yang garing dipanggang terik matahari.
Ujian yang lebih dahsyatpun menyusul.
Ibrahim diperintah untuk menyembelih ismail puteranya sendiri dengan tangannya sendiri.
Keduanya ikhlas, Allah Maha Belas Kasih pada keduanya, penyembelihan Ismail dibatalkan Allah sendiri diganti dengan qibas.
Semestapun bertakbir, bertahmid dan bertasbih memuji Dia Yang Maha Belas Kasih.
Peristiwa tersebut dikukuhkan Allah dalam ingatan dan hati setiap manusia dengan hari kejadiannya sebagai Hari Raya Qurban.
Hari disembelihnya kecintaan duniawi sebagai qurban sesungguhnya, demi kecintaan pada Yang Maha Mencintai lagi Maha Dicintai, demi ketaatan pada Yang Maha Kuasa, Pemilik Alam Semesta.
Itulah pelajaran dari Allah.
Adakah diantara kita yang mau mengambil pelajaran darinya.

III

Ibrahim pun menyeru semua umat manusia, setelah dia dan puteranya Ismail selesai menegakkan Baitullah atas perintah Allah.
Seruan yang senantiasa membersitkan kerinduan di hati setiap orang beriman untuk menzirahi tempat dan tanah yang disucikan oleh Allah, tempat berkiblatnya wajah dan hati setiap muslim.
Ada perintah dan kehendak Allah yang menjadi jiwa seruan itu berupa syariat ibadah haji, makanya tetap bergema sepanjang masa tanpa ada yang mampu meredamnya.
Manakala hati telah luluh oleh seruan itu, adakah yang mampu mencegah kerinduan menjamah tempat yang disucikan itu untuk merasakan seperti bertemu muka dengan Allah sendiri, menjadi tamu Allah dengan terus berucap LABBAIK ALLAHUMA LABBAIK, kami datang memenuhi panggilanMu ya Allah.
Siapapun yang pernah merasakan pasti tahu bahwa kerinduan semacam ini adalah kerinduan paling agung yang tiada bandingannya.
Mereka yang menjalani ibadah haji secara benar dan tulus paham bahwa perasaan seperti bertemu langsung dengan Pemilik Cinta Yang Maha Agung di Baitullah adalah kenikmatan yang tiada tara.
Hati jadi luluh dan luruh bersimpuh dihadapan Yang Maha Agung lagi Maha Terpuji.
Inikah secuil bayangan nikmat syurgawi.

IV
Ketika Allah Yang Maha Hidup bertanya kepada setiap insan yang baru saja diberiNya hidup : “ APAKAH AKU INI TUHAN KAMU SEKALIAN ?, semua menjawab :” BENAR DAN KAMI BERSAKSI “.
Kesaksianpun terus diperbaharui melalui syariat agama yang ditetapkan sendiri oleh Allah, agar manusia tetap konsisten dengan kesaksian tadi.
Kemudian dipahami bahwa kesaksian bukanlah hanya berupa ucapan dan ritual belaka, tetapi segala amaliah dalam menapaki seantero sisi kehidupan sebagai ibadah pada Allah adalah menjadi kesaksian juga.
Setiap desah nafas dan detak jantungpun ditujukan sebagai ibadah pada Yang Memberi Hidup.
Sehalus apapun lintasan yang tergoret dalam khayalan dan keinginan semuanya harus tunduk pada keinginan Allah Yang Maha Agung kalau memang mau selamat di dunia dan di akherat.
Tetapi manakala anak manusia larut dalam cinta dunia, maka kesaksian tadi ternoda dan pudar bahkan terlupakan.
Jadilah syetan bertahta dalam diri anak Adam.
Syetan yang seharusnya jadi musuh manusia, menurut ketentuan Allah harus terus dilawan seperti disimbolkan dalam melempar zumrah pada ibadah haji.
Syetan yang memimpin kepada kegelapan menuju akhir yang sangat menyedihkan penuh kesengsaraan tiada tara, kekal selamanya.
Tetapi banyak diantara manusia yang menobatkan syetan bertahta pada relung paling dalam dari dirinya dengan keserakahan pada cinta duniawi tanpa pernah merasa puas dan tobat.
Syetan yang telah menyertai anak manusia sejak dilahirkan.
Syetan yang menjeblos anak manusia kedalam neraka jahannam.
Semuanya terpulang pada kita, apakah memilih kesengsaraan neraka atau kenikmatan syurga yang dijanjikan oleh Allah.

V

Saat semesta larut dalam memujiMu kini, ya Rabb kami, jangan Engkau sisihkan kami dari ritual akbarMu ini.
Ritual yang menandai keikhlasan dan ketulusan berqurban demi memenuhi titahMu.
Ritual bagi hamba-hambaMu yang mukhlis.
Jadikan Hari Raya Qurban ini bagi kami sebagai hari disembelihnya keserakahan duniawi dalam setiap diri kami, masukkan kami dalam barisan hamba-hambaMu yang shaleh dan mukhlis, hamba yang ridho padaMu dan Engkau ridhoi.
Sucikan kalbu kami agar senantiasa ingat padaMu melalui ilham dan hilkmah yang Engkau karuniakan di Hari Raya Qurban, hari Akbar Yang Engkau Muliakan.
Maha Besar Engkau ya Allah, pujian hanya bagiMu, Maha Suci Dzatmu dari apapun.

7 des 2008
JH Alifulhaq

Monday, October 13, 2008

Waiting 2

Here, in my place was waiting at this time
I remembered in old time
I stepped all the ways, until the heavens limit, to pursue the tracks of the longing
I was almost buried in magma the love that glowed
And I protracted in sighed of the fairy's breath and the baby's crying

When my eyes were almost blind by was dazzled illusion
Found by me the light actually
The light that guided me to my place was waiting at this time

Here, in my place was waiting at this time
I’ve seen you reluctantly chose the way that has explained by me for you
The way that was straight and easy to come here, to my place
My place was waiting at this time
The world that where all of them stayed young and new because always was renewed
Boredom, difficulty, sad, the suffering and torture died here
Remained only outstanding enjoyment, stretched in the nature that the area without the limit
Even how many was gulped by us, will be never finished, because of continuing to improve so many fold times

From my place was waiting at this time, I spoke honest to you, in your conscience, deep in your heart
I knew where the way ending that was chosen by you
That your choice personally
But the lived not just the choice
The life was the will and the conviction
Before were all to be late
Before were all to be destiny
Still had time and the opportunity to change the direction to the way that has explained by me
To my place was waiting at this time

Oct. 2008
JH Alifulhaq