Custom Search

Wednesday, May 1, 2013

AKU BUKAN SEKEDAR NAMA


Aku tahu kamu sering memanggilku dalam kekhidmatan puja-puji sakral dan curahan rasa syahdu penuh harap yang membanjiri khayalan dan mimpimu. Tapi itu tidak punya makna apa-apa bagiku karena yang kamu panggil adalah simbol tanpa melibatkanku sedikitpun walau  sekedar citra selintas jati diriku sehingga identitas yang kamu lekatkan di simbol bukan aku, tetapi pihak lain. Maka datanglah para bajingan menyaru seakan-akan aku, memagutmu sampai kamu menggelepar dalam kenikmatan suatu mimpi yang terus berulang dan kemudian jadi usang. Aku tidak akan berbuat apa-apa, karena itu pilihanmu dan kesenanganmu  seperti kebanyakan mereka pemuja kepalsuan. Tetapi aku tetap setia menunggu dalam setiap keheningan malam sampai kamu mau dan sanggup menggapai aku dengan cinta bening dari dalam hatimu seandainya kamu memang menginginkan aku.
Apabila tiba saatnya keinginanmu sampai padaku, maka aku dekap kamu tanpa akhir dalam keindahan yang tak pernah usang saat mana setiap detak jantung dan helaan napas adalah kenikmatan tiada tara untuk direguk, membuatmu enggan melewatkannya meskipun hanya setitik kecil. Siapapun dan apapun tidak bisa mengusikmu dan mengusikku, tidak juga gabungan semua lasykar dari seantero kerajaan langit dan bumi, karena aku bukan sekedar nama, aku adalah wujud yang datang dari keabadian dan membawa kamu pada keabadian. (JH).

                                     Prosa mini untuk pemuja simbol.

                                               Jatiasih, 1 Mei 2013

                                                    Jusuf Hakim

TOP SELLING BUKU TERAPI ALIF

Tuesday, April 30, 2013

DIATAS BAHTERA



Tidak ada lagi hak kamu bertindak dan bicara atas namaku meskipun kamu telah ada sejak awal bersamaku di satu bahtera dalam pelayaran di samudera fana. Aku biarkan kamu memainkan kemahiranmu memanipulasi cakrawala dengan warna-warni indah dalam bentuk abstrak yang fantastik. Tetapi ketika permainanmu tadi hendak merubah arah pelayaran, aku tolak. Kamupun marah dalam wujud makar dengan mengundang badai dan angin. Hampir saja bahtera ini karam. Diam-diam kunobatkan hati jadi nahoda, kemudian kutantang kamu, “ Silahkan panggil seribu angin dan badai atau selaksa gelombang menggulung “. Bahtera ini akan terus berlayar kearah seharusnya dia tuju.
Hey kawan. Kita telah bersama dalam pelayaran ini dalam kurun sangat panjang. Kalau arah nahoda tidak kamu sukai, itu artinya kamu tidak memilih bahtera ini untuk pelayaranmu sampai akhir tujuan. (JH)

                           Prosa mini, dari aku untuk aku.
                             Jatiasih, 30 April 2013

TOP SELLING BUKU TERAPI ALIF