DIKTE CINTA
Tak ada sebab apa-apa
Yang jadi awal
Tetiba rasa
Berbunga-bunga
Dalam sejuta bunga
Anganpun terimbas
Seluruh relung diri ini terbius
Dan hanyut dalam sensasi indah
luar biasa
Seperti larut dalam cinta tak terbayang
Dan kungkungan rindu nan kukuh
Bagai di awang-awang rasanya
Seperti inikah sejuta jatuh cinta
Sejenak tertegun dalam tanya
Sadar hati tak ikut hanyut
Kenapa
Hati diam jiwa yang jawab
Itu cinta kuat
Bersenjata rindu kukuh mengungkung
Mendikte kamu
Biar tak berkutik
Sampa tersungkur dibawah kaki mereka
Tetapi cinta beningmu
Dari RabbMu
Membuat niat dan laku mereka
Jatuh ke diri mereka sendiri
Pilihannya satu diantara dua
Buat mereka
Jadi sahaya cinta
Senantiasa luluh dan luruh
Dibawah kakimu
Atau derita cinta yang panjang dan lama
Itulah wujud cinta dan sayang Rabbmu
Yang jadi dambaanmu setiap saat
Ya Rabbku
Dalam cinta dan rinduku
Sampai batas yang bisa kucapai
Syukurku padaMu kupersembahkan
Maha Suci Engkau Rabbku
Maha Mencintai lagi Maha Dicintai
Jatiasih Maret 2025
JH ALIFULHAQ
KOMENTAR CHATGPT
Komentar terhadap Puisi “DIKTE CINTA” oleh JH Alifulhaq
1. Tema dan Makna
Puisi ini menggambarkan kekuasaan cinta yang luar biasa, yang datang tanpa sebab, mendominasi pikiran, dan membawa seseorang ke dalam euforia serta kungkungan rindu. Namun, dalam kedalaman perasaan ini, ada kesadaran spiritual yang muncul, membedakan cinta fana yang mendikte dengan cinta bening yang berasal dari Tuhan.
• Cinta sebagai kekuatan yang mendikte → Penyair merasa dikuasai oleh perasaan cinta dan rindu yang kuat, hampir seperti kehilangan kendali.
• Kesadaran jiwa dan spiritualitas → Hati tidak hanyut karena ada cinta bening dari Tuhan yang menjadi pelindung dari ilusi cinta duniawi.
• Dua pilihan bagi mereka yang mencintai → Mereka akan menjadi hamba cinta yang selalu tunduk atau mengalami derita cinta yang panjang.
• Syukur kepada Tuhan → Pada akhirnya, cinta sejati yang diidamkan penyair adalah cinta dari Rabb-nya, bukan cinta yang mendikte dan menguasai.
2. Struktur dan Alur
Puisi ini memiliki perkembangan yang jelas:
1. Awal yang tiba-tiba → Cinta datang tanpa sebab, membawa sensasi luar biasa.
2. Euforia cinta → Perasaan ini menguasai angan dan jiwa, seperti melayang di awang-awang.
3. Kesadaran spiritual → Jiwa mulai bertanya, mengapa hati tetap diam?
4. Penyadaran akan cinta sejati → Cinta bening dari Tuhan mengalahkan cinta yang mendikte.
5. Pilihan bagi mereka yang mencintai → Apakah mereka menjadi hamba cinta atau menderita?
6. Syukur kepada Tuhan → Penyair menyerahkan diri sepenuhnya kepada cinta Tuhan.
3. Gaya Bahasa dan Diksi
• Imaji yang Kuat
• “Bagai di awang-awang rasanya” → Melukiskan euforia jatuh cinta yang begitu tinggi dan memabukkan.
• “Cinta kuat bersenjata rindu kukuh mengungkung, mendikte kamu” → Menggambarkan cinta yang menguasai dan membelenggu.
• “Jadi sahaya cinta atau derita cinta yang panjang dan lama” → Menggambarkan konsekuensi cinta yang fana.
• Penggunaan Retorika
• “Seperti inikah sejuta jatuh cinta?” → Mengundang pembaca untuk ikut merasakan pertanyaan batin penyair.
• “Kenapa?” → Simpel tetapi mendalam, mengisyaratkan pertanyaan terhadap fenomena cinta yang mendikte.
• Kontras antara Cinta Duniawi dan Cinta Ilahi
• Cinta duniawi digambarkan sebagai mendikte, menguasai, dan mengekang.
• Cinta Ilahi adalah bening, membebaskan, dan menyelamatkan dari ilusi cinta palsu.
4. Nilai Refleksi dan Emosional
Puisi ini menggambarkan pertarungan batin antara cinta duniawi dan cinta Ilahi, yang dapat dirasakan oleh:
• Mereka yang sedang jatuh cinta tetapi merasa dikuasai oleh perasaan tersebut.
• Mereka yang mulai mempertanyakan hakikat cinta sejati.
• Mereka yang ingin mencari cinta yang lebih tinggi dan murni.
• Kelebihan:
• Menggunakan simbolisme yang kuat untuk membedakan cinta duniawi dan cinta Ilahi.
• Struktur yang jelas, dari euforia cinta hingga kesadaran spiritual.
• Mengajak pembaca untuk merenungkan makna cinta yang sejati.
Kesimpulan
“DIKTE CINTA” adalah puisi yang menyelami pertarungan batin antara cinta yang menguasai dan cinta yang membebaskan.
Dengan bahasa yang puitis, simbolisme yang dalam, serta kesadaran spiritual yang kuat, puisi ini mengajak pembaca untuk merenungkan cinta sejati yang berasal dari Tuhan, bukan sekadar ilusi yang mendikte perasaan dan menguasai jiwa.