Custom Search

Tuesday, April 30, 2013

DIATAS BAHTERA

DIATAS BAHTERA 

Tidak ada lagi hak kamu bertindak dan bicara atas namaku meskipun kamu telah ada sejak awal bersamaku di satu bahtera dalam pelayaran di samudera fana. Aku biarkan kamu memainkan kemahiranmu memanipulasi cakrawala dengan warna-warni indah dalam bentuk abstrak yang fantastik. Tetapi ketika permainanmu tadi hendak merubah arah pelayaran, aku tolak. Kamupun marah dalam wujud makar dengan mengundang badai dan angin. Hampir saja bahtera ini karam. Diam-diam kunobatkan hati jadi nahoda, kemudian kutantang kamu, “ Silahkan panggil seribu angin dan badai atau selaksa gelombang menggulung “. Bahtera ini akan terus berlayar kearah seharusnya dia tuju.
Hey kawan. Kita telah bersama dalam pelayaran ini dalam kurun sangat panjang. Kalau arah nahoda tidak kamu sukai, itu artinya kamu tidak memilih bahtera ini untuk pelayaranmu sampai akhir tujuan. (JH)

                           Prosa mini, dari aku untuk aku.
                             Jatiasih, 30 April 2013

TOP SELLING BUKU TERAPI ALIF

Thursday, July 22, 2010

DUA DUNIA

Ketika rindu mendera sampai titik nadir
Lalu menggelepar dalam menggapai kakiMu
Aku tercampak ke dunia tanpa ujung
Hatipun jadi lain tanpa bisa lelap
Mereguk segala relung tanpa batas, tanpa akhir
Segala kebosanan dan kepenatan telah disembelih disini, di dunia tanpa ujung
Oh , nikmatnya, dahsyatnya perjalanan ini

Saat hati tak pernah lelap
Desah napaspun jadi puisi
Kedipan dan detak jantung juga jadi puisi
Segalanya jadi puisi
Aku terpenjara diantara dinding-dinding kefanaan
Menggelepar dalam rindu yang terus mendera tanpa akhir
Oh sakitnya, dahsyatnya siksaan ini, di kefanaan ini

Ya Rabbku
Dengan cinta dan kasih Mu yang tiada tara
Engkau bentangkan takdir yang harus kupilih diantara dua dunia
Tempat dimana siksaan dan kenikmatan jadi larut
Rahmat dan cobaan menyatu
Antara terang dan gelap jadi samar
Antara kepalsuan dan kemurnian tidak jelas
Nilai dan maknapun jadi kabur
Tempat goretan mengalir bagai air bah

Ya Rabbku
Kalau memang masih ada waktu buatku
Sisa takdir buatku
Kesempatan buatku
KeridhaanMu
Aku hanya memilih kekekalan cintaMu yang tiada tara


Juli 2010

JH Alifulhaq

TOP SELLING BUKU TERAPI ALIF

Sunday, December 7, 2008

Renungan Idul Adha

I
Ketika perintah Allah turun kepada nabi Ibrahim alaihissalan untuk menyembelih Ismail puteranya sendiri dengan tangannya sendiri, jiwa insan keduanya tentu terguncang.
Betapapun dahsyatnya ujian itu, keduanya tidak pernah menyanggah meskipun dalam bentuk lintasan tanda tanya di hati atau pikiran.
Tanya yang akan menjadi gerbang bagi syetan untuk menjerumuskan anak Adam ke jurang kesesatan dan kefasikan.
Tanya yang akan menodai keikhlasan dan ketulusan hati dalam penghambaan diri dan penyerahan diri sepenuhnya pada Allah Yang Maha Agung lagi Maha Terpuji.
Tanya yang akan menjadi awal petaka.
Ibrahim dan Ismail diselamatkan oleh Allah dari petaka ini, petaka tanya yang berbau sanggahan dan bantahan.
Jadilah keduanya orang yang mukhlis, ikhlas seikhlas-ikhlasnya berkorban memenuhi perintah Allah, Tuhan mereka, Tuhan kita dan Tuhan Alam Semesta.
Allah pun memilih keduanya sebagai hamba yang dimuliakanNya di dunia dan di akherat.

II

Cinta dan kasih sayang Ibrahim pada Ismail puteranya, tiada padanan sesuatu apapun di dunia ini.
Ismail adalah buah hati yang telah begitu lama sangat diharapkan Ibrahim sebegai penerus keturunannya.
Apakah menurut takaran Allah hal itu melampui batas bagi Ibrahim ?
Wallahu a’lam, hanya Allah sendiri yang tahu.
Kenyataannya Ibrahim diperintah oleh Allah agar membuang Ismail yang masih bayi bersama Siti Hajar ibunya di lembah Bakka yang kemudian bernama Mekkah.
Lembah tak bertuan berupa hamparan padang pasir dan cadas tanpa naungan apapun, kecuali langit biru dan bumi yang garing dipanggang terik matahari.
Ujian yang lebih dahsyatpun menyusul.
Ibrahim diperintah untuk menyembelih ismail puteranya sendiri dengan tangannya sendiri.
Keduanya ikhlas, Allah Maha Belas Kasih pada keduanya, penyembelihan Ismail dibatalkan Allah sendiri diganti dengan qibas.
Semestapun bertakbir, bertahmid dan bertasbih memuji Dia Yang Maha Belas Kasih.
Peristiwa tersebut dikukuhkan Allah dalam ingatan dan hati setiap manusia dengan hari kejadiannya sebagai Hari Raya Qurban.
Hari disembelihnya kecintaan duniawi sebagai qurban sesungguhnya, demi kecintaan pada Yang Maha Mencintai lagi Maha Dicintai, demi ketaatan pada Yang Maha Kuasa, Pemilik Alam Semesta.
Itulah pelajaran dari Allah.
Adakah diantara kita yang mau mengambil pelajaran darinya.

III

Ibrahim pun menyeru semua umat manusia, setelah dia dan puteranya Ismail selesai menegakkan Baitullah atas perintah Allah.
Seruan yang senantiasa membersitkan kerinduan di hati setiap orang beriman untuk menzirahi tempat dan tanah yang disucikan oleh Allah, tempat berkiblatnya wajah dan hati setiap muslim.
Ada perintah dan kehendak Allah yang menjadi jiwa seruan itu berupa syariat ibadah haji, makanya tetap bergema sepanjang masa tanpa ada yang mampu meredamnya.
Manakala hati telah luluh oleh seruan itu, adakah yang mampu mencegah kerinduan menjamah tempat yang disucikan itu untuk merasakan seperti bertemu muka dengan Allah sendiri, menjadi tamu Allah dengan terus berucap LABBAIK ALLAHUMA LABBAIK, kami datang memenuhi panggilanMu ya Allah.
Siapapun yang pernah merasakan pasti tahu bahwa kerinduan semacam ini adalah kerinduan paling agung yang tiada bandingannya.
Mereka yang menjalani ibadah haji secara benar dan tulus paham bahwa perasaan seperti bertemu langsung dengan Pemilik Cinta Yang Maha Agung di Baitullah adalah kenikmatan yang tiada tara.
Hati jadi luluh dan luruh bersimpuh dihadapan Yang Maha Agung lagi Maha Terpuji.
Inikah secuil bayangan nikmat syurgawi.

IV
Ketika Allah Yang Maha Hidup bertanya kepada setiap insan yang baru saja diberiNya hidup : “ APAKAH AKU INI TUHAN KAMU SEKALIAN ?, semua menjawab :” BENAR DAN KAMI BERSAKSI “.
Kesaksianpun terus diperbaharui melalui syariat agama yang ditetapkan sendiri oleh Allah, agar manusia tetap konsisten dengan kesaksian tadi.
Kemudian dipahami bahwa kesaksian bukanlah hanya berupa ucapan dan ritual belaka, tetapi segala amaliah dalam menapaki seantero sisi kehidupan sebagai ibadah pada Allah adalah menjadi kesaksian juga.
Setiap desah nafas dan detak jantungpun ditujukan sebagai ibadah pada Yang Memberi Hidup.
Sehalus apapun lintasan yang tergoret dalam khayalan dan keinginan semuanya harus tunduk pada keinginan Allah Yang Maha Agung kalau memang mau selamat di dunia dan di akherat.
Tetapi manakala anak manusia larut dalam cinta dunia, maka kesaksian tadi ternoda dan pudar bahkan terlupakan.
Jadilah syetan bertahta dalam diri anak Adam.
Syetan yang seharusnya jadi musuh manusia, menurut ketentuan Allah harus terus dilawan seperti disimbolkan dalam melempar zumrah pada ibadah haji.
Syetan yang memimpin kepada kegelapan menuju akhir yang sangat menyedihkan penuh kesengsaraan tiada tara, kekal selamanya.
Tetapi banyak diantara manusia yang menobatkan syetan bertahta pada relung paling dalam dari dirinya dengan keserakahan pada cinta duniawi tanpa pernah merasa puas dan tobat.
Syetan yang telah menyertai anak manusia sejak dilahirkan.
Syetan yang menjeblos anak manusia kedalam neraka jahannam.
Semuanya terpulang pada kita, apakah memilih kesengsaraan neraka atau kenikmatan syurga yang dijanjikan oleh Allah.

V

Saat semesta larut dalam memujiMu kini, ya Rabb kami, jangan Engkau sisihkan kami dari ritual akbarMu ini.
Ritual yang menandai keikhlasan dan ketulusan berqurban demi memenuhi titahMu.
Ritual bagi hamba-hambaMu yang mukhlis.
Jadikan Hari Raya Qurban ini bagi kami sebagai hari disembelihnya keserakahan duniawi dalam setiap diri kami, masukkan kami dalam barisan hamba-hambaMu yang shaleh dan mukhlis, hamba yang ridho padaMu dan Engkau ridhoi.
Sucikan kalbu kami agar senantiasa ingat padaMu melalui ilham dan hilkmah yang Engkau karuniakan di Hari Raya Qurban, hari Akbar Yang Engkau Muliakan.
Maha Besar Engkau ya Allah, pujian hanya bagiMu, Maha Suci Dzatmu dari apapun.

7 des 2008
JH Alifulhaq

TOP SELLING BUKU TERAPI ALIF

Monday, October 13, 2008

Waiting 2

Here, in my place was waiting at this time
I remembered in old time
I stepped all the ways, until the heavens limit, to pursue the tracks of the longing
I was almost buried in magma the love that glowed
And I protracted in sighed of the fairy's breath and the baby's crying

When my eyes were almost blind by was dazzled illusion
Found by me the light actually
The light that guided me to my place was waiting at this time

Here, in my place was waiting at this time
I’ve seen you reluctantly chose the way that has explained by me for you
The way that was straight and easy to come here, to my place
My place was waiting at this time
The world that where all of them stayed young and new because always was renewed
Boredom, difficulty, sad, the suffering and torture died here
Remained only outstanding enjoyment, stretched in the nature that the area without the limit
Even how many was gulped by us, will be never finished, because of continuing to improve so many fold times

From my place was waiting at this time, I spoke honest to you, in your conscience, deep in your heart
I knew where the way ending that was chosen by you
That your choice personally
But the lived not just the choice
The life was the will and the conviction
Before were all to be late
Before were all to be destiny
Still had time and the opportunity to change the direction to the way that has explained by me
To my place was waiting at this time

Oct. 2008
JH Alifulhaq

TOP SELLING BUKU TERAPI ALIF

Menunggu 2

Disini, di tempat aku menunggu saat ini
Aku ingat dulu
Ketika aku menapaki semua jalan
Sampai batas cakrawala
Untuk memburu jejak rindu
Aku nyaris terkubur di magma asmara yang membara
Dan larut dalam desah nafas bidadari dan tangisan bayi

Ketika mataku hampir buta oleh silau fatamorgana
Aku temukan cahaya sesungguhnya
Cahaya yang menuntunku ke tempatku menunggu saat ini

Disini, di tempatku menunggu saat ini
Aku lihat kamu enggan memilih jalan yang telah kubetangkan untukmu
Jalan yang lurus dan gampang untuk sampai kemari, ke tempatku
Tempatku menunggu saat ini
Tempat segalanya tetap muda dan baru karena senantiasa diperbaharui
Kebosanan, susah, sedih, penderitaan dan siksaan telah mati disini
Tersisa hanya kenikmatan tiada tara, membentang di alam yang maha luas tanpa batas
Seberapun kita reguk, tidak akan pernah habis, karena terus bertambah sekian kali lipat

Dari tempatku menunggu saat ini, aku bicara jujur padamu, pada nuranimu di hatimu yang paling dalam
Aku tahu kemana berakhirnya jalan yang kamu pilih
Itu pilihanmu sendiri
Tapi hidup bukan sekedar pilihan
Hidup adalah kemauan dan keyakinan

Sebelum semuanya terlambat
Sebelum semuanya jadi takdir
Masih ada waktu dan kesempatan untuk merubah arah ke jalan yang telah kubentang
Ke tempat aku menunggu saat ini

Okt. 2008
JH Alifulhaq
TOP SELLING BUKU TERAPI ALIF

Thursday, October 9, 2008

That not yet during him

When the heart ticked was stopping
Cold shivered crept from foot as far as the chest
I lay downed was spread out was waiting for the death pick me up
I asked: “Is this during him“
But the sign has not still emerged
I also asked my Lord:"Have I deserved back to Your side?"
Have I been clean holy from the sin and my mistake?
If not yet, I please was given by time so that I become appropriate was Your side
The heart again ticked
Cold suddenly vanished
I was grateful, Allah who was Lover and Beloved? gave me time.

Oct 2008
JH Alifulhaq

TOP SELLING BUKU TERAPI ALIF

Belum Saatnya

Ketika jantung berhenti berdetak
Dingin menggigil menjalar dari kaki sampai ke dada
Aku rebah terlentang menunggu maut menjemput
Aku bertanya : “ Inikah saatnya “
Tapi pertanda belum juga muncul
Akupun bertanya pada Tuhanku, apakah aku sudah pantas kembali ke sisiMu
Apakah aku sudah bersih suci dari dosa dan kesalahanku
Kalau belum, aku mohon diberi waktu agar aku jadi pantas berada disisiMu
Jantung kembali berdetak
Dingin tiba-tiba sirna
Aku bersyukur, Allah Yang Maha Belas Kasih memberi aku waktu.

Oktober 2008
JH Alifulhaq

TOP SELLING BUKU TERAPI ALIF